Hai Ibu, Bangun Ya Aku Lapar! – Alasan Bayi Sangat Suka Menyusu | Medela Indonesia

WELCOME TO THE NEW MEDELA.ID.

Hai Ibu, Bangun Ya Aku Lapar! –  Alasan Bayi Sangat Suka Menyusu

Hai Ibu, Bangun Ya Aku Lapar! – Alasan Bayi Sangat Suka Menyusu

Get Started on Breastfeeding & Tips

Share this content:

Halo, Bu! Aku tahu ibu lagi di tengah mimpi indah, menikmati menikmati liburan yang cerah di sebuah pulau eksotis bersama ayah, dan iya, ada aku di dalam mimpi ibu juga. Aku jadi bayi yang tenang sempurna, memakai baju dari desainer terkenal dengan tanpa noda sedikitpun. Aku terlihat sedang berayun lembut di dalam sebuah ayunan bayi rajutan berwarna putih pada sebuah kebun tropis yang indah. Semua begitu sepi, ibu–kemana semua orang? Oh, mimpinya sudah berganti lagi. Ibu sedang berbelanja sepatu di sebuah tempat dengan puluhan baris rak berisi sandal dan sepatu berwarna-warni. Juga terdapat banyak asisten belanja ibu yang semuanya wajahnya terlihat seperti George Clooney. Betapa anehnya, aku tidak terlihat sama sekali di mimpi ibu yang ini.

Aku sebenarnya ingin meminta maaf karena harus membangunkan ibu dari mimpi ibu yang begitu hidup tadi, namun hanyalah suaraku yang aku miliki untuk bisa mendapatkan perhatianmu di titik ini dalam hidupku. Pada siang hari, aku sering mendengar kata-kata aneh yang keluar dari mulut orang dan itu berhasil mendapat perhatianmu, tapi sekarang ini jam 2:00 malam dan hanya ada aku. Aku tidak ingin membangunkan semua orang, hanya ibu saja. Ibu mungkin berpikir kenapa harus begitu. Mungkin ini terdengar tidak adil, tapi kelihatannya hanya ibu yang betul-betul memahamiku dan apa yang aku inginkan jam 2 dini hari. Kadang ayah memberikanku minum dan melakukan semacam gerakan goyang-goyang aneh. Aku suka sekali itu, tapi aku harus mengakui bahwa ibu yang aku butuhkan dan inginkan di kebanyakan waktu. Memang betul aku haus dan lapar –tapi ada banyak hal lain yang ada di pikiranku dan hanya ibu yang bisa memahaminya.

Aku Ingin Dipeluk

Tampaknya sudah terlihat jelas bahwa aku senang ibu bisa memberikan pelukan dan menggendong dekap aku di malam hari. Ibu memiliki wangi yang aku suka. Sentuhan kulit ibu saja bisa membuatku merasa aman terlindungi, dan seolah memberi tahu aku bahwa aku layak berada disini di saat ini. Aku bisa ingat tak lama lalu aku ada di dalam rahim ibu. Begitu aman tentram. Seluruh transisi ke dunia nyata ini ternyata cukup membuat kewalahan dan membingungkan. Apa aku melewati buku panduannya ya, Bu? Aku kadang betul-betul tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ada sedikit ide yang muncul di kepala, tapi pikiranku jadi ruwet. Ada begitu banyak warna, suara, dan wajah. Pada saat malam hari aku terbangun, aku hanya ingin ibu memelukku. Jika itu membuat ibu harus terbangun dari mimpi-mimpi indah ibu, terima kasih sudah lebih memilih aku ya, Bu.

Aku Ingin Menangis

Ibu, aku bisa sangat paham kalau tangisku itu cukup menjengkelkan. Tetapi jika kita dapat menghasilkan ide yang lebih baik, aku benar-benar berjanji untuk mencobanya. Mungkin ibu bisa memasang sebuah lonceng kecil di pergelangan tanganku atau kita bisa menciptakan sebuah cara ajaib lain untuk membuatku bisa tahu apa yang aku rasakan. Walaupun aku sejujurnya berpikir kalau menangis itu cukup alami sih, Bu. Naluriku berkata kalau lebih baik untuk menangis secara positif daripada membiarkan pikiran buruk berputar-putar di dalam kepala. Kalau tidak, kenapa aku suka melihat ibu kadang menangis? Kadang sekadar meminum ASI dan memegang tangan ibu cukup membuatku merasa lebih baik. Seperti aku katakan sebelumnya, aku hanya sedikit kewalahan dengan semuanya saat ini.

Aku Ingin ASI

Memang betul, aku sering sekali lapar. Waktu laparku juga tidak terbagi siang dan malam. Aku kadang hanya ingin ASI. Aku tidak paham cara kerja menyusui ini –tapi ASI yang ibu buat itu ajaib, rasanya betul-betul fantastis! Aku juga suka cara ibu menggendong aku, bagaimana ibu mengambil napas dalam lalu mengusap kepalaku dan kadang sambil menyanyikan aku sedikit lagu. Aku menaruh tanganku pada ibu, dan ibu tidak pernah menarik tubuh ibu. Kadang aku merasa kalau ibu sedikit kesakitan, tapi ibu tidak pernah mengatakannya padaku atau menyalahkanku. Aku tidak paham kenapa ibu malah menyalahkan diri ibu sendiri, tapi itu mungkin bagian dari menjadi seorang ibu yang aku belum bisa pahami sekarang. Terima kasih telah menjadi berani ya, Bu. Menyenangkan sekali ketika aku bisa berpelukan dengan seorang yang menyayangiku dan merawatku tanpa pamrih –dan memiliki ASI yang enak selama 7 hari dalam seminggu.

Aku Takut

Aku kadang mendapat suatu perasan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi, dan aku belum siap menghadapinya. Aku belum punya segudang pengalaman di dunia, jadi suara yang tiba-tiba muncul di malam hari. Bahkan keheningan disaat aku terbangun sendiri pada malam hari di boks bayi hanya ditemani mainan menggantung, gambar-gambar binatang, dan bayangan dari luar di dinding kamar. Semua itu membuatku merasa tidak aman dan khawatir. Aku hanya membutuhkan seorang teman yang membisikkan ke telingaku –“Tidak apa-apa sayangku, semua baik-baik saja. Kamu baik-baik saja.” Temanku itu adalah Ibu, lho! Aku tau bahwa ini adalah pilihan antara tidurmu atau senyumku, tapi menurutku itu adalah tawaran yang cukup masuk akal dariku. Aku tahu ibu amat sangat lelah –aku sungguh-sungguh. Ketahuilah bahwa aku sangat baru akan semua ini –bahkan lebih baru dari ibu.

Aku Ingin Ibu

Jadi, terima kasih sudah mau bangun dan berusaha memahami apa yang ada di pikiranku ya, Bu. Aku tahu ini semua mengambil banyak dari ibu. Aku juga tahu kalau ibu sangat letih. Aku memperhatikan ibu di siang hari, dan kadang aku merasa sedih karena sudah membuat ibu terjaga selama berjam-jam. Terjaga untuk ada saat aku menangis, menggeliat-menggeliat, tertawa terkikik, meminta pelukan, meminta ASI, atau hanya ingin ditemani. Aku juga tahu betapa merepotkannya aku –tapi aku berjanji akan ada untuk ibu disaat nanti aku sudah dewasa. Aku berjanji untuk selalu ada disamping mu, Bu. Ibu menciptakanku –itu lumayan keren lho, Bu. Aku akan selalu berterima kasih untuk itu selama umur hidupku.

Jika bayi dapat berbicara kepada ibu, apa menurut ibu yang akan ia katakan? Yuk ceritakan ke kami di Facebook Page Medela Indonesia!

We use cookies on this site to enhance your experience. By continuing to use our site you are accepting these terms. To find out more about the cookies we use, see our Cookies Policy.